Menuju akhir tahun di tengah Pandemi Covid-19

Ini adalah postingan pertama di tahun 2020, dimana semakin menekankan bahwa saya adalah blogger paling tidak konsisten sejagad raya.

Satu-satunya yang bisa saya banggakan adalah saya tidak melupakan username dan password blog ini bahkan setelah 10 tahun berlalu.

Jadi, apa kabar?

Oh maaf, jawabannya sudah jelas. Seharusnya saya tidak bertanya kabar.

Kabarmu dan kabar kita semua saya rasa hampir sama. Tahun 2020 tidak berjalan sebaik biasanya karena pandemi Covid-19.

Banyak kehilangan, banyak kesedihan.

Di tahun 2020 ini juga terlihat mana manusia yang tidak perduli dengan manusia lainnya.

Manusia yang kehilangan sisi kemanusiawiannya.

Saya harap kita semua tetap waras dan bisa berfikir jernih.

Badai pasti berlalu. Pandemi ini pasti bisa kita kalahkan bersama.

Ayo. Jangan putus asa.

Ayo. Saling menjaga.

Continue reading Menuju akhir tahun di tengah Pandemi Covid-19

Kejompoan di umur 27

Selamat bulan Mei, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yg menjalankan!

Hampir memasuki bulan ke-2 sebagai staff dengan jabatan rangkap, tapi hidup gw masih baik-baik saja. Gw masih bisa ketawa, senyum simpul najis, ngomel-ngomel juga. Nangis sih jangan ditanya.

Anak gw yang mau 9 bulan umurnya juga lagi lucu-lucunya. Kemarin merangkak cuma 2 langkah, hari ini bisa 5 langkah. Kemarin masih cuek nonton tipi pas mamanya ngantor, sekarang udah ngerengek-ngerengek minta ikut. Terkadang capekkk bgt menjalani hidup sebagai workingmomma tapi ya gimana. Hidup terlalu keras kalau gw gak punya penghasilan sendiri.

Lalu masuk kebagian curcol.

Beberapa bulan kebelakang gw kayak punya 2 kepribadian. Gw bukannya menyembunyikan sendu dibalik muka cengengesan gw, bukan. Gw itu kalau seneng ya seneng aja. Ketawa ya ketawa aja walaupun gw lg sedih, gw tetep bisa ngerasa seneng. Tapi gw bisa tetiba sedih tanpa ada pencetus. Lagi ketawa-tawa, semenit kemudian sedihnya gak ketulungan.

Gw mulai memikirkan secara serius untuk mengunjungi psikolog. Sepertinya gw perlu bantuan medis.

Karena gw sangat sadar ini enggak sehat. Gw takut keadaan gw ini berpengaruh ke sikap gw ke anak, ke keluarga. Gw sadar sekali sudah menjadi mahluk super duper menyebalkan akhir-akhir ini. Eh atau enggak ya? Gw aslinya udah nyebelin mungkin?

Gw juga jadi sering sakit kepala, bisa jadi karena otak gw dipaksa buat mikirin sesuatu diluar kapasitas kekuatan daya pikir. Sering tiba-tiba demam juga.

Yasudahlah ya, gw lanjut nyari informasi mengenai jasa psikolog yg murah meriah dulu.
Salam jompo.
Continue reading Kejompoan di umur 27

2019, Lingkungan Baru, Hidup yang Baru

Sudah 2019 dan aku masih tetap tidak konsisten menulis di sini hm.

ENIWEI, aku sudah tidak menjadi warga Jakarta dari akhir Januari 2019. Sebetulnya sih ragu dengan rencana mutasi ini tapi karena sudah bosan dengan kemacetan pagi siang malam dan penasaran dengan job desk baru di tempat yang baru akhirnya ya mantaplah hati ini.

Sekarang sudah hampir Mei 2019, gak disangka menyenangkan sekali di tempat baru ini. Walau menurut teman-teman keadaan di sini tidak seasik tahun-tahun sebelumnya tapi tetap saja bagiku ini jauh lebih baik dibanding saat masih di Jakarta. Kerja tetap lelah, tetap pulang sore, tapi bangun pagi Senin-Jumat sudah tidak terasa berat lagi. Akhirnya bisa merasa semangat berangkat ke kantor, ikhlas pulang agak malam demi tuntasnya tugas.

Tapi seolah ada yang tidak suka melihat aku riang, diberikannya aku kado pahit untuk melengkapi hidupku yang mulai manis. Tidak apa-apa. 

Namanya juga manusia, cobaannya tiada tara.
Continue reading 2019, Lingkungan Baru, Hidup yang Baru

Menguap.

Sabtu, 29 Sep 2018, 22.00 WIB.

Malam ini gw secara gak sengaja nemu retweet-an orang tentang snapgram seorang selebgram yang membahas ‘fall in love with your partner all over again’. Di sana mbak selebgram itu meminta followersnya untuk berbagi cerita tentang hal apa aja yang bisa membuat mereka jatuh cinta kembali kepada pasangannya gak peduli sudah berapa lama mereka bersama. Lalu cerita-cerita yang datang dari followersnya bener-bener membuat hati hangat dan mata berkaca-kaca :)

Secara garis besar sih yang membuat mereka merasa jatuh cinta kembali dengan pasangannya itu karena hal-hal kecil dan sepele namun dilakukan dengan ‘refleks’ sehingga terasa tulus dan sangat peduli. Ya, merasa dicintai sehingga mereka jatuh cinta kembali. 

Tapi dibalik semua cerita mengharukan itu gw jadi mikir sebaliknya, ada gak yang merasa cinta bukannya datang kembali tapi malah semakin hari semakin hilang? Peluk yang seharusnya terasa hangat tapi malah terasa dingin? Ada gak, yang setelah diterpa masalah besar lalu melihat pasangannya berbuat ini itu untuk membuat dia bahagia tapi malah pikiran ‘ah itu dia jadi baik begitu karena mau nebus kesalahan aja, nanti juga balik jadi iblis lagi kalo dipikirnya gw udah maafin dia’ yang muncul? 

Pasti ada kan yang merasa begitu? 
Entah faktor besarnya masalah sehingga mustahil untuk memaafkan atau sedemikian bangsatnya pasangan karena melakukan kesalahan berulang.

Kenapa masih bertahan dengan pasangan yang seperti itu jika memang cinta sudah dirasa menguap? 

Well, denger. Alasan orang untuk bertahan ada banyak, dan alasan orang memilih pergi pun beragam. Gak perlu menghakimi. 

Kalau lo merasa gak cinta pasangan lagi tapi memilih bertahan dengan sebuah alasan, lo hebat! Tapi kalau lo memilih pergi ya gak salah juga. Hidup cuma sekali kan jadi silahkan lo yang memutuskan mana yg terbaik buat lo. 

Kalau itu terjadi sama gw, kalau cinta hilang dan gak bisa kembali, mungkin gw memilih pergi :)
Continue reading Menguap.

Rumah

Tuhan,
Jika menyatu tidak baik untukku, maka pisahkanlah. 

Tuhan,
Sesungguhnya aku enggan meminta lagi karena doaku Kau dengar pun tidak. 
Tapi sekali ini saja, mohon beri aku terang.
Agar aku tidak buta dan menjadi mahluk bodoh untuk kesekian kalinya.

Tuhan,
Aku rindu sepi.
Aku rindu dulu ketika disini hanya ada aku.

Tuhan,
Aku tidak mau di keramaian.
Aku lelah menyapa sesama dengan riang.
Aku lelah melemparkan canda tawa hampa.
Aku lelah menjawab lantang bahwa aku baik-baik saja.

Tuhan,
Aku tidak baik-baik saja.
Aku tidak akan pernah baik-baik saja.

Tuhan,
Tolong jawab tanyaku.
Kemana aku harus pulang?
Kepada siapa aku harus pulang?
Continue reading Rumah

Dimana akhirnya?


Apa yang kamu harapkan?
Panasnya matahari ketika musim penghujan tiba?
Nasi hangat beserta lauk pauknya ketika lapar melanda?
Atau intimnya peluk ketika tubuh beku diterpa sedih dan gundah?

Apa yang kamu harapkan?
Rumah kokoh ketika bumi dilanda gempa?
Lalu lintas tanpa hambatan ketika dikejar waktu?
Atau tatapan mengerti tanpa menghakimi ketika tak mampu bicara karena lidah kelu?

Apa yang kamu harapkan?
Nikmatnya hidup tanpa cobaan?
Segala fasilitas bonafit tanpa kerja keras?
Jabatan dan kehormatan diraih dengan jalan pintas?
Semua manusia berlaku seperti manusia?
Inikah?

Matilah kamu, Sayang..

Naifnya..
Berapa usiamu?
Apa pendidikanmu?
Masihkah kamu menipu diri sendiri bahwa semuanya akan berjalan baik sesuai harapanmu?
Pahamkah kamu bahwa kenikmatan pun adalah cobaan yang bisa berakhir menjadi boomerang kehidupanmu?

Sayang..
Bahkan yang sedarahpun bisa menorehkan luka
Apalagi mereka yang asing, yang tanpa tendeng aling-aling datang menghampiri
Menawarkan janji
Percayakah kamu padanya?

Sayang..
Dunia adalah seburuk-buruknya cobaan
Tempat dimana ekspektasi dan realita terkadang tidak berjalan berdampingan
Maaf, boleh dikoreksi?
Sebagian besar ekspektasi dan realita tidak berjalan berdampingan
Karena besarnya harapanmu tadi

Sayang..
Percayalah, manusia terkadang tidak berlaku seperti manusia yang mempunyai akal dan rasa
Terkadang manusia berlaku seperti binatang yang hanya menuruti insting dan nafsunya
Sayang..
Janganlah berharap tinggi kepada manusia..

Sayang..
Aku tidak bilang semua manusia tidak bisa dipercaya
Aku hanya ingin bilang jangan terbangkan ekspektasimu kepada manusia
Jangan terlalu berharap semua akan baik dan berakhir indah
Jangan tipu dirimu dengan angan-angan surga
Sayang, lindungi dirimu..

Sayang..
Kendalikan harapanmu
Jika nanti harapanmu terhempas dan terbuang
Kamu masih cukup kuat untuk berjuang
Sayang..
Sayangi hidupmu, jangan cari kecewamu.

Continue reading Dimana akhirnya?