Untuk kamu yang tersayang..
Hai Sayang, apa kabar? Aku harap kamu sehat.
Ketika surat ini kutulis, hujan di luar sana turun dengan deras. Baik
sekali ya mereka mau mewakili perasaanku yang sedang mendung ini.
Ngomong-ngomong aku baru saja menemukan folder foto-foto lama kita.
Setelah kulihat, aku baru sadar ternyata banyak sekali kenangan yang kita
habiskan bersama. Aku jadi teringat saat pertama kali kita bertemu. Saat itu
aku sama sekali tidak pernah berpikir akan terus bersama kamu seperti ini. Suka?
Oh- itu mimpi. Cinta? Apalagi! Cinta pada pandangan pertama? Oh-oh, buang saja
pikiran seperti itu ke neraka.
Kamu yang tengil, kamu yang cerewet, kamu yang di cap playboy kelas teri
satu sekolah. Mana mau aku punya pacar aneh seperti itu. Lalu, kenapa aku bisa
jatuh cinta sama kamu? Hanya Tuhan yang tahu.
Pertama kita memulai dengan suatu hubungan yang dinamakan teman. Hanya
teman. Aku yang saat itu hobi menangis, dengan kamu disisiku –dengan sikap
anehmu- aku bisa tertawa lepas. Ketika aku patah hati, kamu dengan sabar
menarikku keluar dari jurang kegalauan. Aku beruntung sekali punya teman
seperti kamu.
Tanpa kusadari kamu mulai mengisi celah hatiku sedikit demi sedikit.
Dasar licik. Bisa-bisanya aku tidak tahu! Semua orang tahu kamu mulai melakukan
pendekatan, tapi –malangnya aku- aku tidak sadar sama sekali. Bodohnya.
Lalu tiba-tiba aku sudah terjerat oleh kamu. Aku mulai bergantung pada
kamu, mulai mencari kamu, mulai merindukan kamu. Apa-apaan ini?? Kamu tahu,
saat itu aku galau untuk kedua kalinya dalam hidupku. Setelah berusaha mencari
arti perasaan ini dari kamus hati, aku tahu penyakit apa yang sedang
menggerogotiku akhir-akhir ini. Cinta –aku tidak tau kenapa rasanya aneh sekali
mengucapkan kata yang satu itu-.
Lucu bukan? Aku selalu mengidamkan cinta datang dengan beribu angan
seperti yang terjadi di film-film romantis. Tapi yang terjadi: cintaku datang
dengan sejuta keanehan. Entah siapa yang memulai, tahu-tahu kita menjadi sangat
terikat satu sama lain.
Sekarang aku hanya bisa tersenyum ketika mengingat saat itu. Cinta bisa
datang dalam kemasan yang berbeda rupanya. Ups. aku terlalu banyak menulis,
Sayangku. Semoga kamu tidak lelah membacanya. Oh iya, aku mau meralat sesuatu.
Aku beruntung sekali punya pacar seperti kamu.
NB: Hujannya sudah berhenti, dan aku tidak mendung lagi. Pasti itu
karena kamu rindu padaku juga. Jangan bilang aku ge-er, aku tahu isi hatimu
kok.
Salam hangat, Ratih.
0 Post a Comment:
Posting Komentar