,

Hikmah :)


Setiap awalan pasti ada akhiran. Dan di sinilah gw, menanti detik-detik kepulangan dari desa tempat gw KKN ke habitat asal gw, Papua. Nggak ding, Bandar Lampung maksud gw. Masa KKN yang berlangsung selama 40 hari itu terhitung 18 Januari 2013 awalnya terasa lama banget buat gw. Sebagai mahluk seludupan di kelompok ini, gw ngerasa sedikit nelangsa. Diantara 9 orang kelompok baru ini gw cuma kenal 2 butir manusia, Mada si pacar, dan Kadek temen UKM gw. Gw ngerasa ketakutan kalau-kalau gw nggak bisa berbaur dengan mereka terlebih dengan status mada sebagai pacar gw, otomatis mereka bakalan menjaga jarak. Dan ya, ini terbukti.

Hari-hari pertama di Desa Way Tuba kerasa kayak hidup di neraka. Makanan seadanya, nggak ada temen yang akrab pula. Gw selalu ngerasa kok mereka nggak mau ngobrol sama gw ya, kok gw ditinggal ya, apa mereka nggak suka sama gw? Setelah mikir kayak gitu pasti ujung-ujungnya gw bakal sedih sendiri. Belum lagi konflik yang terjadi. Saling singut, saling bete, saling nyalahin. God, KKN macam apa ini? Gw selalu ngerasa iri sama temen-temen yang bilang, “Tih, tempat KKN gw oke banget! Temen sekelompok gw juga asik deh!”. Mulailah gw berpikir mungkin keputusan gw buat pindah ke kelompok ini salah besar. Dan mulailah penyesalan menggerogoti hati gw setiap hari. 

Pertengahan masa KKN, gw mulai akrab sama Mbak Sari. Menurut gw dia adalah sosok cewek yang paling tua dewasa diantara temen sekelompok gw yang lain. Dari dia gw belajar banyak hal. Dia ngajarin gw buat belajar berterus terang, apa adanya, nggak peduli sama hal yang nggak penting, dan yang paling utama, dia ngajarin gw buat nggak terlalu ‘perasa’. Dikit-dikit masukin hati, dikit-dikit bete.

Setelah banyak ngobrol akhirnya gw dapet sedikit pencerahan. Mindset. Itu dia kuncinya. Inget pepatah ‘ubahlah pola pikir, maka dunia akan ikut berubah’ nggak? Ya, pola pikir. Apa yang lo pikir, itulah yang akan terjadi. Misalnya, kalo lo berpikir masalah itu berat, ya masalah itu berat. Kalo lo pikir masalah itu ringan, ya masalah itu ringan. Semuanya tergantung pola pikir kita. Simpel emang, tapi penerapannya yang sulit.

Awal menghadapi masalah yang ada di sini, gw kalap. Bawaannya mau marah, mau mukul, mau memaki. Emosi menguasai gw sepenuhnya. Ngeliat mimik wajah temen yang bete, gw ikutan bete. Ngedenger sindiran dikit, kuping langsung panas. Akibatnya makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, kerja jadi nggak becus, apa-apa males, badmood seharian penuh.

Lama-lama gw sadar kalo nggak bisa selamanya gw dikuasai emosi kayak gini. Gw marah, gw kesel, gw badmood, kan gw sendiri yang rugi. Sama aja kayak benci sama orang, kesel sama orang, gw yang bakal rugi karena waktu gw bakal abis buat mikirin mereka, padahal mereka aja nggak mikirin kita. Karena pada dasarnya gw orang yang nggak mau rugi jadi gw nggak mau ngelakuin hal-hal yang bikin gw rugi (ya iyalah).

Gw mulai ngubah pola pikir. Masalah yang gw pikir adalah musibah langsung gw ubah menjadi ujian pendewasaan diri. Gw berusaha enjoy disetiap keadaan. Gw berusaha nggak kepengaruh sama atsmosfer negatif yang ada di sekeliling gw. Mereka kesel, mereka bete, yaudah biarin aja yang penting gw tetep happy. Gw mencoba buat seneng di keadaan apapun, mau pas kumpul-kumpul sama temen atau sendiri, gw harus tetep seneng gimanapun caranya. Dengan masalah yang ada, gw juga mencoba untuk tetep profesional. Misalnya saat gw lagi berantem besar sama pacar, gw harus bisa keliatan biasa aja di depan temen-temen. Gw nggak boleh merengut walaupun hati gw lagi nggak enak. Kondisi mood yang berantakan nggak boleh bikin kerja gw jadi berantakan juga.

Dan gw merasa seperti artis komedi, Tukul misalnya. Walaupun mood lagi berantakan tapi si Tukul harus tetep keliatan ceria di depan kamera. Gw meniru dia, bukan niru mukanya tapi niru keprofesionalitasnya. Jangan sampai masalah pribadi kebawa-bawa ke kehidupan sosial gw.

Lama-kelamaan gw nggak lagi ngerasa iri sama temen gw yang KKN-nya lancar dan bebas konflik. Lama-lama gw ngerasa beruntung pindah ke kelompok penuh masalah ini. Mereka yang KKN-nya berlangsung lancar kayak jalan tol bebas hambatan nggak ngerasain rasanya penolakan, rasanya bersitegang, rasanya beda pendapat. Mereka nggak ngerasain rasanya berjuang melawan ego masing-masing, mencoba lebih bertoleransi, mencoba memaklumi, mencoba sabar, mencoba menurunkan gengsi, mencoba mengambil hikmah dari setiap konflik yang ada.

Dengan penolakan, gw belajar intropeksi diri. Dengan kritikan, gw belajar memilah mana yang mesti gw dengerin dan mana yang mesti gw lupain. Dengan sindiran, gw belajar lebih inisiatif dalam melakukan sesuatu. Dengan melihat wajah temen yang nggak enak, ngedenger mereka ketus, gw belajar untuk cuek nggak ngambil hati apa yang gw lihat dan apa yang gw denger. Dengan keegoisan temen, gw belajar buat bersabar, nggak membalas mereka dengan keegoisan yang gw miliki. Dengan mereka yang bersandiwara, bergaul biasa padahal saling singut di belakang, gw belajar buat tampil apa adanya. Inilah gw, terserah lo mau terima apa nggak. Terpenting, gw belajar untuk menikmati setiap moment yang ada. Dengan menikmati apapun yang terjadi, KKN jadi nggak menyerupai neraka lagi. Waktu yang berlalu juga terasa cepat.

Gw menganggap masalah yang ada di sini cuma masalah kecil. Nggak ada apa-apannya dengan masalah lain yang menunggu kita di luar sana. KKN hanya sekali seumur hidup, nggak akan gw biarin mereka menghancurkan moment langka ini dengan masalah yang mereka ciptakan. Menjadi pribadi yang selalu ceria adalah pilihan. Bukan moment yang menentukan kapan kita harus seneng, kapan kita harus sedih. Seperti kata mbak Sari, “ciptakan moment kita sendiri”. Ya, ini adalah drama gw dengan gw sebagai bintang utamanya, dan akan gw ciptakan moment gw sendiri untuk selalu bahagia di kondisi apapun J

0 Post a Comment:

Posting Komentar