Beberapa
menit yang lalu saya menyempatkan diri melihat langit setelah seharian
mengurung diri dalam kamar. Mendung. Gelap. Dan udara terasa panas. Pengap.
Seketika
saya menyadari tentang satu hal.
Keadaan
langit saat ini benar-benar mencerminkan perasaan manusia ya. Setidaknya
perasaan beberapa manusia, termasuk saya.
Pernahkah
hati kamu terasa panas walaupun cuaca sedang sangat bersahabat? Saya yakin kamu
pernah. Saya yakin tidak ada manusia yang tidak pernah merasakan sedih, kecewa,
marah. Bahkan orang yang jiwa spiritualnya sudah tinggi sekalipun pasti pernah
merasakan hal-hal seperti ini. Perasaan demikian sungguh manusiawi dan tidak
terelakkan selama kita masih memiliki jiwa.
Ketika
hati tengah digerogoti oleh rasa panas namun kamu tidak bisa melampiaskannya
pada hal lain, apa yang akan kamu lakukan? Diam? Murung? Mendung?
Terdiam
dalam hati yang panas. Apa yang dapat kamu lihat? Rimbunnya rerumputan? Bentuk awan?
Burung yang beterbangan? Saya yakin kamu dapat melihat segalanya selama mata
masih berfungsi. Tapi dapatkah kamu melihat hal-hal abstrak? Misalnya melihat masalah
kamu dengan pikiran yang jernih? Melihat hikmah dari rasa marah dan kecewa yang
timbul? Melihat siapa yang salah, siapa yang benar, apa yang sebenarnya
terjadi? Melihat apakah ada kemungkinan kamu yang salah? Melihat apakah
sebaiknya kamu harus meminta maaf terlebih dahulu? Apa justru siapkah kamu
memaafkannya dengan tulus seandainya dia yang salah? Saya rasa kamu tidak dapat
melihatnya selama hati masih dirundung panas. Jika kamu tidak dapat melihat,
lalu apa? Gelap.
Panas,
mendung, gelap. Setelah itu?
Kecewa,
marah, merasa tidak ada tempat untuk menumpahkan rasa, terdiam, merenung lalu
tanpa disadari air mata mulai bergulir. Awalnya hanya satu tetes, tapi makin
lama tumpahlah semuanya. Banyaknya air mata yang jatuh mencerminkan berapa
banyak rasa yang membebani hati kamu. Banyaknya air mata yang jatuh bukan
berarti kamu lemah, cengeng. Air mata hanya satu cara sederhana untuk
memadamkan kobaran api yang sudah terlanjur menyala dalam diri. Hujan.
Saya
tertawa. Kenapa bisa pas sekali?
Namun
tenang saja, Tuhan selalu mengerti kita bukan? Setelah hujan, biasanya langit
langsung cerah dan makin indah karena hiasan pelangi. Untuk yang satu ini, saya
rasa masing-masing kita akan berbeda. Bukan berarti tidak semua orang akan
bahagia setelah terkena cobaan, tapi semata-mata pelangi kita akan datang dalam
waktu yang berbeda. Indah setelah waktunya kan?
Sayangnya
pelangi saya belum muncul. Saya baru menerima panas, mendung dan gelap.
Ngomong-ngomong,
di luar sedang gerimis. Haruskah saya beritahu apa yang saya rasakan sekarang?
0 Post a Comment:
Posting Komentar