2 hari terakhir menuju tahun 2022, dan tulisan ini diketik sambil mendengarkan lagu Idgitaf berulang kali di Spotify.
Tahun ini adalah tahun terakhir saya di umur 20-an, part lagu ini kok rasanya relate sekali.
29 tahun. Saya sering me-review pencapaian apa yang sudah saya raih selama ini, khususnya di usia 23 s.d sekarang. Saya lumayan stress ketika menghadapi kenyataan bahwa pencapaian saya ini rasanya tidak seberapa dibanding dengan pencapaian teman-teman seusia saya.
Saya menikah, mereka juga.
Saya punya anak, mereka juga.
Saya punya pekerjaan, mereka pun.
Saya punya materi secara cukup, wah mereka jangan ditanya.
Lalu apa yang bisa saya banggakan?
Dalam karir, saya memang berusaha bekerja dengan baik dan target selalu tercapai. Namun jujur saya tidak ingin 'berkarir' karena untuk promosi akan terlalu banyak yang harus saya korbankan terutama keluarga. Nah, cocok sekali kan?
Ku tak tahu apa lagi yang 'kan kukejar...
Saya pikir bulan Oktober 2021 saya mulai mencari akun yang sering sharing mengenai Self-Healing dan Self-Acceptance.
Rasanya klise ya, kelihatan sekali putus asanya sehingga perlu mencari materi motivasi. Bahkan saya memikirkan secara serius untuk terapi ke psikolog namun belum menemukan jadwal yang pas. Maklum, saat ini saya anak kabupaten. Psikolog/psikiater yang saya tuju adanya di kota dengan jadwal praktik yang sudah ditentukan dan sering kali bentrok dengan jadwal wfh saya.
Kembali lagi ke Self-Healing dan Self-Acceptance. Untuk pengertian dan langkah-langkah secara umum untuk melakukan 2 hal tersebut silahkan googling sendiri ya.
Kemarin, saya tidak sengaja melihat ig-story Alodita (Malo). Intinya Malo berkata bahwa pencapaian jika dibandingkan dengan orang lain ya tidak ada habisnya. Coba dibandingkan dengan diri kita yang lama, rasanya pasti banyak kemenangan kecil yang sudah kita capai.
Saya terdiam lama sekali, menyimak lanjutan story Malo sekaligus melihat ulang diri saya tahun 2021 dibanding dengan diri saya tahun 2020 dan sebelumnya.
Coba saya bikin list beberapa hal yang baru saya coba lakukan di 2021:
- Tahun ini saya lebih banyak bilang 'tidak' untuk hal-hal yang tidak mau saya lakukan/saya pikir lebih baik tidak saya lakukan, di lingkungan kerja.
- Saya lebih banyak membiarkan orang tahu perasaan saya. Apakah saya sedih, marah, kecewa, tidak saya tutupi. Saya mencoba menuturkan apa yang mengganjal dari hati saya kepada pihak lain tanpa meledak-ledak.
- Tahun ini saya berusaha tidak menjadikan kekurangan orang lain/kesusahan orang lain sebagai pengingat rasa syukur saya. Misal, saya memang sedih memiliki wajah rewel gampang jerawatan. Namun ketika melihat orang dengan kondisi jerawat yang jauh lebih parah dari saya, saya berusaha tidak mengucap 'duh harus bersyukur nih muka gw kayak gini, masih banyak orang-orang yang lebih parah ternyata'. No. Sekarang saya hanya mencoba mensyukuri apa adanya. Saya hidup, saya sehat, saya bahagia. Saya sedih wajah saya rewel, ya tidak apa-apa. Saya menerima perasaan sedih saya dengan 100% sadar bahwa manusia memang bisa sedih. Sedih bukan berarti tidak bersyukur. Sedih itu manusiawi. Tinggal bagaimana langkah selanjutnya agar kulit saya membaik & tidak sedih berlarut, dalam hal ini saya lebih intens mempelajari kebutuhan kulit saya & memakai skincare.
- Saya lebih merawat diri sebagai bentuk self-love sekaligus berusaha untuk menghabiskan semua skincare yang saya punya. Tahun-tahun sebelumnya tidak terhitung berapa puluh botol skincare yang saya buang, entah karena bosan, terlupakan hingga kadaluwarsa atau tidak cocok. Tahun ini semua skincare saya habiskan. Jika tidak cocok di wajah, saya pakaikan di badan. Pokoknya tidak boleh ada yang terbuang.
- Saya minum air putih 2-3L sehari, di luar minum kopi, teh, atau minuman kemasan lainnya.
- Kebiasaan memecahkan jerawat karena gemas sudah jauh jauh jauuuuh berkurang.
- Saya lumayan bisa mengontrol emosi ketika berdebat dengan bapak saya. Hehe.
- Saya sangat menggunakan fitur mute, unfollow & not interested untuk membersihkan timeline media sosial saya, demi ketenangan jiwa dan raga.
- Saya lumayan teguh tidak mengikuti trend kekinian, misal film A lagi hits banget namun mengguncang emosi, saya tidak akan nonton. Saya tidak peduli di cap kurang update yang penting hari saya tetap indah tanpa terbawa konten. Begitu juga berita, saya akan skip berita aneh agar tidak kesal sendiri. Karena yang rugi kan saya, sudah buang waktu baca berita tidak mutu, buang kuota, eh jadi misuh-misuh melulu.
- Saya berusaha untuk menghargai moment dan mengapresiasi hal-hal kecil yang orang lain lakukan untuk diri saya, walaupun tidak saya puji terang-terangan.