4 Bulan

Maret 2016.

Saat itu kamu berkata bahwa kamu tidak ingin menjadikanku pacarmu. Jadi istri, ibu untuk anak-anakmu, sudah cukup. 

Saat itu kamu berkata bahwa hubunganmu denganku berbeda dengan hubungan-hubungan di masa lalumu. Berbeda tanpa disengaja, karena memang rasanya berbeda. Rasa berbeda memancing perilaku yang berbeda pula. Perbedaan yang kita berdua sama-sama suka. 

Saat itu kamu berkata bahwa karena hubungan kita spesial, jadi kamu ingin kali ini tidak usah ada ikrar berpacaran. Cukup kita berkomitmen menuju jenjang yang lebih tinggi. Cukup kita fokus ke sana saja.

Tapi muncul masalah..

Bagaimana kamu bisa dengan ketus menegur laki-laki yang menggodaku jika aku bukan milikmu? Bagaimana aku bisa memeloti setiap gadis yang melirikmu jika kamu bukan milikku?

Lambat laun jadi berfikir bahwa pernyataan kepemilikan atas masing-masing itu perlu. Bagi kami.

30 Maret 2016. Siang sekitar pukul 15.00 WIB, kita pacaran. Senang tapi bertanya-tanya apakah keputusan kita salah. 

Sekarang sudah 4 bulan. Apa kita masih bertanya-tanya? Tidak. Keputusan kita salah? Tidak. Semakin bahagia? Jelas.

Happy mensiverry. Semua luar biasa. Siap kan menghadapi susah senang sebal marah cemburu dikedepannya sama-sama? 

30 Juli 2016.
Cintamu.

Continue reading 4 Bulan